Selamat Datang Di Blog MA Assalaam Maja

Kamis, 12 Juni 2014

PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN TEKNIK MODIFIKASI PELAJARAN DAN PENGEMBANGAN STRATEGI PENDIDIKAN MELALUI PENDIDIKAN JASMANI



PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN TEKNIK MODIFIKASI PELAJARAN DAN PENGEMBANGAN STRATEGI PENDIDIKAN MELALUI PENDIDIKAN JASMANI

            Pengembangna strategi pembelajaran dalam upaya memenuhi kebutuhan setiap siswa, gurur penjas adaptif, perlu melakukan modifikasi, baik metode pendekatan, lingkungan belajar maupun fasilitas belajar. Uraian berikut membahas mengenai ketiga factor yang perlu dimodifikasi tersebut sehingga diharapkan memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal.

1.      PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN TEKNIK MEMODIFIKASI PEMBELAJARAN
Seorang guru pendidikan jasmani harus memiliki ketrampilan dalam melaksanakan teknik-teknik penguraian pembelajaran karena hal tersebut sangan bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Faktor-faktor yang perlu dimodifikasi dan disesuaikan para guru dalam upaya meningkatkan komunikasi dengan siswa adalah sebagai berikut :
1)      Penggunaan Bahasa
Bahasa merupakan dasar dalam melakukan komunikasi. Mutu komunikasi yang baik antara guru dan siswa perlu ditingkatkan melalui modifikasi bahasa yang dipergunakan dalam pembelajaran.
Sasaran memodifikasi bahasa diperuntukkan bagi semua anak, baik yang mengalami kesulitan bahasa maupun yang mengalami jenis-jenis kecacatan yang lainnya. Setiap siswa mengalami kecacatan masing-masing. Ada siswa yang hanya mampu mencerna dua kata, ada yang tiga kata.
Berbagai cara dapat digunakan untuk memodifikasi dan menyesuaikan bahasa seseorang, namun yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran para guru dalam mempergunakan bahasadan mengamati bagaimana respons siswa terhadap bahasa yang kita gunakan.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, mungkin diperlukan penyesuaian tentang penggunaan bahasa yang tepat, misalkan dengan cara memperpendek kalimat dan pernyataan sehingga dapat dipahami anak dengan mudah. Kita ambil contoh kata “lari ke pagar” dan “lari kembali”. Ini bisa kita singkat “lari pagar” dan “lari balik”.
Untuk menambah perbendaharaan kita mengenal berbagai modifikasi dalam mengungkapkan istilah dan instruksi, antara lain :
2)      Penyederhanaan Penggunaan Kata
Kata yang dipergunakan sedapat mungkin disederhanakan sehingga lebih mudah dipahami anak. Misal : untuk mengganti kata “di sebelah” diganti “di samping”, kata “mirip” diganti “sama”,dan sebagainya. Dengan demikian para guru dapat mencari dan menggunakan kata yang tepat dalam memberikan instruksi kepada siswa cacat.
3)      Gunakan kata yang bermakna tunggal
Berilah kata yang bermakna tunggal terutama pada kata yang memerlukan tindakan. Misal “lari ketonggak pertama” diganti “pergi ketonggak pertama”.
a.       Satu instruksi untuk satu kegiatan
b.      Berikan instruksi, kemudian demonstrasikan tugas yang ingin dikerjakan.
c.       Setiap instruksi, siswa disuruh mengulangi sebelum dia melaksanakan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana informasi telah diproses anak.
4)      Membuat konsep yang konkrit
Pembuatan konsep yang konkrit berkaitan dengan penggunaan bahasa yang sesuai dengan kemampuan anak. Artinya yang menjadi fokus dalam hal ini adalah bagaimana menciptakan agar tugas atau aktivitas yang akan dilakukan sungguh-sungguh dapat dipahami. Sebagai contoh, seorang guru bertanya : Berapa banyak cara yang dapat kamu gunakan untuk membuat sebuah lingkaran ? Penjelasannya dapat membuat lingkaran dalam kertas dan lingkaran dengan bergandeng tangan dan semua jawaban itu benar.
Para guru dapat mengkomunikasikan apa yang diinginklan dengan pemilihan kata yang tepat. Dengan demikian konsep lingkaran yang dijelaskan melalui demonstrasi gengan permainan menjala ikan.
Penggunaan kata dalam penjelasan jangan diubah-ubah, guru harus konsisten agar anak yang mengalami cacat tidak bingung dan mudah dipahami.
5)       Pembuatan tugas secara berurutan
Untuk melaksanakan tugas ini, diasumsikan siswa mempunyai kemampuan memahami dan membuat urutan gerak secara baik. Seorang guru menyuruh siswa “berjalan ke pintu” yang sedang dalam keadaan duduk. Untuk melaksanakan tugas tersebut diperlukan langkah-langkah persiapan sebelum anak benar-benar melangkahkan kakinya menuju pintu.
Langkah-langkah yang dilakukan anak tersebut adalah sebagaiberikut : mula-mula anak mendengar perintah dari gurunya, kemudian memproses informasi, dan pempersiapkan diri untuk memberi respons, selanjutnya mengatur posisi tubuh untuk persiapan berdiri, kemudian berdiri dan jalan.
Jika seorang siswa kesulitan dalam membuat urut-urutan yang dialami, maka pelaksanaan tugas yang diperintahkan guru tersebut akan menjadi tantangan berat yang sangat berarti bagi dirinya. Oleh karena itu guru harus tanggap dan memberi bantuan sepenuhnya baik secara manual ataupun verbal pada setiap langkan dengan berurutan.
Sebagai contoh anak yang mengalami keterbelakangan mental disuruh melakukann gerakan guling depan. Guru harus memberi aba-aba. Langkah yang ditempuh : Berdiri diatas matras, lutut ditekuk, letakkan tangan di atas matras, bengkokkan badan ke depan, rapatkan dahi ke dada dan seterusnya.
Menghadapi anak-anak luarbiasa, kita selalu mengasumsikan bahwa mereka tidak dapat memahami dan memproses seluruh langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Asumsi seperti itu perlu dijadikan pegangan bagi guru, agar dalam melaksanakan tugas selalu memberikan bantuan kepada siswa. Pemberian tugas yang berurutan berkaitan dengan memori anak yaitu kemampuan anak untuk merespon perintah dengan urut.
Pemahaman mengenai tingkat kemampuan anak akan membantu guru pendidikan jasmani dalam menentukan jumlah tugas yang diberikan. Dalam setiap melaksanakan tugas, guru pendidikan jasmani seyogyanya selalu memberi instruksi, pengarahan atau tugas yang paling sederhana dan kemudian meningkat ke yang komplek dengan cara penggabungan.
6)      Ketersediaan waktu belajar
Dalam menghadapi anak-anak cacat perlu disediakan waktu yang cukup, pada kenyataannya ada anak cacat yang mampu memproses dalam waktu sesuai dengan anak-anak normal, dan ada anak cacat yang membutuhkan waktu lebih untuk memproses informasi dan mempelajari aktivitas gerak tertentu.  Hal ii berarti diperlukan pengulangan secara menyeluruh dan peninjauan kembali semua aspek yang dipelajari.
Demikian juga dalam praktek atau berlatih, sebaiknya dibeikan waktu belajar yang lebih untuk menguasai suatu ketrampilan.Pemberian waktu belajar yang lebih dianggap juga sebagai hadiah bagi anak-anak yang mengalami kesulitan menerima informasi.
7)      Pendekatan “multisensori”
Para guru pendidikan jasmani sering menggunakan teknik pembelajaran yang dapat merangsang lebih dari satu sistem sensori secara bersama-sama. Namun tidak selamanya dilakukan secara sistematis dan konsisten.
Ada kalanya anak lebih mudah mempelajari satu aktivitas bila menggunakan satu sistem sensori sebagai petunjuk, tetapi pada sisi lain mendukung sistem sensori lainnya. Pendekatan ini disebut multi sensori. Di bawah ini beberapa contoh pendekatan yang merangsang lebih dari satu sensor.
a.       Uraikan tentang penampilan yang diharapkan, kemudian demonstrasikan secara verbal.
b.      Siswa disuruh menguraikan kembali secaraverbal tentang tugas yang diberikan sambil melakukan gerakan yang diinginkannya.
c.       Berikan koreksi dan tunjukkan penampilan yang kurang tepat serta rasakan hasil perbaikan-perbaikan tersebut dalam penampilan berikutnya.
d.      Dalam memberikan pelajaran , guru menggerakkan bagian-bagian tubuh tertentu dan selanjutnya demonstrasikan gerakan tersebut secara menyeluruh.
e.       Ada saatnya siswa dengan kecacatanya memerlukan kombinasi stumulus, sedangkan pada saat lain siswa tertentu hanya dapat memproses satu stimulus saja. Manun perlu diingat bahwa secara umum, anak-anak luar biasa misalnya hiperaktif, sukar berkonsentrasi, dan ketidak mampuan belajar, akan bingung apabila mendapat lebih dari satu stimulus dari suatu sistem sensor.

Bila anak tidak dapat belajar dengan sistem multisensor, maka kurangi masukan-masukan tersebut dengan hanya satu masukan saja, dan pergunakan masukan tersebut sebagai alat koreksi terhadap penampilannya dalam proses pembelajaran.
Sebagai kata kunci dari semua pendekatan yang telah dijelaskan keberhasilannya terletak pada kemampuan guru mengamati perilaku-perilaku individu dan respons motorik para siswa. Apabila kinerja siswa tidak sesuai dengan yang diinginkan, maka perlu dianalisis sebab-sebabnya dan langsung diberikan koreksi dan perbaikan-perbaikan gerak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Perlu diingat bahwa tingkat kemampuan anal-anak penyandang cacat sangat bervariasi dan setiap individu tidak selalu konsisten dalam penampilannya sesuai dengan keinginan guru pendidikan jasmani.

2.      PENGEMBANGAN STRATEGI PENDIDIKAN MELALUI PENDIDIKAN JASMANI
Pengembangan pendidikan di Indonesia sekurang-kurangnya menggunakan empat strategi dasar. Yakni, pertama, pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kedua, relevansi, ketiga, peningkatan kualitas, dan keempat, efisiensi. Secara umum strategi itu dapat dibagi menjadi dua dimensi yakni peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Pembangunan peningkatan mutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas pendidikan. Dimensi pemerataan pendidikan diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan bagi semua usia sekolah.
Salah satu upaya pemerataan pendidikan di Indonesia adalah program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun yakni Sekolah Dasar (SD) 6 tahun dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) selama 3 tahun. Kebijakan ini disebut sebagai upaya menerapkan pendidikan minimal yang harus dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia yang erat kaitannya dengan gerakan melek hurup dan masyarakat belajar. Namun demikian, setelah delapan tahun berjalan, gerakan Wajar 9 tahun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memberi gambaran jumlah anak putus sekolah masih sangat besar dibandingkan mereka yang bisa terus melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian 1995-1999 ternyata pencapaian kelulusan hanya 26,39% untuk perempuan dan 30,57% untuk laki-laki. Artinya hanya sepertiga peserta didik yang bisa meneruskan sekolah, kenyataan ini menunjukkan beratnya daya dukung masyarakat untuk menopang pendidikan.
Penyusunan Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani diperlukan pengetahuan yang cukup perihal kondisi siswa. Maka pengetahuan tentang kondisi siswa ditinjau dari fisiologis, psikologis dan sosial sangat perlu untuk diketahui.Hal lain yang dipelajari adalah manfaat pendidikan jasmani dalam hal ini manfaat aktivitas jasmani untuk meningkatkan kebugaran. Bagian ini akan dibahas pada rambu - rambu pengembangan proram pembelajaran. Pada bagian yang berikutnya adalah langkah -langkah merancang program pembelajaran pendidikan jasmani.
Proses berlangsung juga dengan melihat kurikulum, pemahaman terhadap kurikulum, menentukan TIU dan TIK yang pada akhirnya menyusun rencana pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pembelajaran yang disusun diharapkan mudah dimengerti dan memenuhi kebutuhan siswa untuk beraktivitas.Pada bagian berikutnya adalah sistematika pembelajaran jasmani. Dalam bagian ini berdasarkan pengetahuan fisioligis, psikologis dan sosiologis siswa, Anda dituntun untuk menyusun rencana pembelajaran yang akan diberlakukan untuk satu kali pertemuan. Adapun sistematika yang ada adalah Pendahuluan, Inti dan Penutup.
Pendahuluan berisi pemanasan, inti berisi latihan inti dan dibagi atas dua (2) bagian yaitu bagian A dan bagian B, penutup adalah aktivitas yang bertujuan untuk mengembalikan fisik dalam kondisi normal dengan geraka -gerakan ringan. Sebelum mengatahui beberapa rambu yang dapat dijadikan pegangan untuk mengembangkan pembelajaran jasmani perlu diketahui manfaat aktivitas jasmani terhadap kebugaran jasmani. Aktivitas jasmani sangat bermanfaat terhadap kebugaran jasmani. Artinya bahwa dengan melakukan aktivitas jasmani yang secara teratur dan terencana dengan baik, dapat membawa ke arah kesejahteraan hidup manusia dalam arti sehat jasmani dan rohani. Manfaat aktivitas jasmani
1.      Mengingkatkan jumlah dan ukuran pembuluh darah dalam jantung dan otot, sehingga menghasilkan sirkulasi darah lebih efisien.
2.      Meningkatkan toleransi dari stress.
3.      Mengurangi penumpukan cholesteril dan triglycerida dalam darah arteri.
4.      Mengurangi resiko penyakit jantung (J. Hartoto dan Tomoliyus, 2000).
Dalam buku yang sama juga diungkapkan bahwa program pendidikan jasmani di sekolah dasar harus mengukuti beberapa aturan yang itu sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar. Pedoman - pedoman yang dapat dijadikan pijakan antara lain :
  1. Hendaknya program lebih difokuskan pada promosi kebugaran jasmani dan penanaman rasa cinta terhadap aktivitas jasmani.
  2. Pengajaran program kebugaran jasmani hendaknya selalu dibarengi dengan program peningkatan keterampilan jasmani.
  3. Tidak dibenarkan menggunakan ”exercise” sebagai hukuman kepada siswa sekolah dasar.
  4. Tidak dibenarkan menyudutkan program pendidikan kebugaran jasmani dan keterampilan jasmani, apabila menjumpai siswa tidak berprestasi bagus dalam mata pelajaran lain.
  5. Tidak dibenarkan dalam penilaian terlalu menfokuskan pada hasil atau penampilan luar saja, dan bukan proses.
  6. Program hendaknya lebih mengutamakan membantu siswa yang memiliki tingkatkebugaran jasmai yang rendah untuk mencapai tingkat standaryang memadai.
  7. Penyajian aktitivitas hendaknya lebih mengutamakan budaya local (permainan tradisional)
  8. Penyajian kebugaran jasmani supaya difokuskan pada upaya pemenuhan kriteria kesehatan daripada kreteria hasil, yang didasarkan pada standar normatif yangtidak dilandasi alasan yang jelas.
  9. Lebih mengutamakan dukungan moril daripada mencemooh individu dalam masalah kebugaran.

Berdasarkan point - point diatas dapat disarikan menjadi berikut :
  1. Program pembelajaran menjadi pendorong munculnya motivasi untuk belajar secara sungguh - sungguh dengan tidak mengabaikan keinginan bermain siswaBermain bagi siswa merupakan bagian integral dalam kehidupan sehari - hari. Bagi siswa tiada hari tanpa bermain. Melalui bermain siswa membangun persepsi tentang dunia luarnya. Dalam pendidikan jasmani, bermain merupakan strategi pembelajaran yang konvensional namun memberikan kontribusi yang jelas terhadap pencapaian tujuan belajar siswa. Melalui kegiatan bermain, tidak hanya bagian fisik dan psikomotor saja yang dapat dicapai, melainkan juga bagian kognitif dan afektif, secara langsung dapat dicapai dalam proses pembelajaran. Sebagian besar nilai - nilai sosial dalam kehi dupan sehari - hari, secara efektif terinternalisasi melalui kegiatan permainan. Nilai saling menghargai lawan sebagai kawan bermain, kerja keras, pantang menyerah dan berkompetisi dalam format yang sehat dapat disimula - sikan melalui kegiatan permainan. Program pendidikan jasmani yang dibangun dengan mempertimbangkan bahwa bermain adalah dunia siswa, hendaknya dapat mendorong siswa untuk melakukan berbagai kegiatan belajar dengan tidak mengabaikan dunia mereka. Bahkan dalam operasionalnya, kegiatan bermain dapat menjadi strategiyang efektif untuk mencapai seperangkat tujuan belajar. Melalui kegiatan bermain yang dikemas dalam program pendidikan jasmani hendaknya dapat mendorong siswa untuk memunculkan kegiatan belajar yang sesungguhnya.
  2. Program pembelajaran sesuai dengan identifikasi karakteristik pertumbuhan dan perkembangan siswa. Pendidikan jasmani merupakan bentuk pendidikan yang menggunakan aktivitas gerak sebagai media. Sepanjang usia pertumbuhan dan perkembangannya, seorang siswa akan mengalami tahap - tahap perkembangan tertentu. Tahap - tahap perkembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda - beda. Perbedaan tersebut secara langsung memberikan implikasi yang berbeda terhadap rancang bangun program pembelajaran yang akan disusun. Oleh karena itu, perhatian terhadap tahap perkembangan gerak dan karakteristik siswa peru diberikan secara proporsional sebelum program pembelajaran disusun. Pertanyaan tentang;
a.       Apakah siswa telah memiliki kemampuan untuk melakukan materi pembelajaran yang akan disajikan ?
b.      Apakah materi yang disajikan telah sesuai dengankebutuhanpertumbuhan dan perkembangan siswa ?
c.       Apakah materi dapat mendorong ke arah pertumbuhan dan perkembangan siswa secara harmonis ?
d.      Apakah materi pembelajaran dapat membekali siswa memiliki kemampuan untuk memasuki danberadaptasi denganberbagai keadaan di masa depan ?

Mungkin beberapa pertanyaan yang perlu dipikirkan oleh guru sebelum men yusun program pembelajaran. Melalui pertanyaan - pertanyaan tersebut, seorang guru di samping dapat membangun rencana program pembelajaran, juga harus memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan profil anak didiknya. Dengan kemampuan tersebut, juga dapat memvisualisasikan profil anak didiknya pada masa depan. Walaupun profil masa depansulit untuk diidentifikasi dengan tepat, namun guru diharapkan dapat mengantarkan anak didiknya untuk memasuki dan beradaptasi denganberbagai perubahan masa depan.
Sehubungan dengan hal tersebut, guru harus memiliki visi masa depan siswa yang baik. Visi tentang keberadaan diri dan profesi guru sebagai suatu profesi yang mengemban tugas untuk mengembangkan siswa secara totalitas hendaknya menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi. Dengan demikian, guru tidak terjebak hanya pada upaya pencapaian tujuan jangka pendek. Profesi guru memiliki tugas dan tanggung jawab mengantarkan siswa pada masa depan yang lebih baik.
  1. Program pembelajaran tidak hanya mengembangkan komponen fisik motorik sisiwa melainkan totalitas perkembangan siswa.
Pendidikan jasmani merupakan bentuk pendidikan yang menggunakan aktivitas fisiksebagai media, tujuan pendidikan jasmani tidak hanya mengembangkan kemampuan fisik dan motorik siswa saja, tetapi juga melalui aktivitas fisik terpilih dan dikemas dengan pendekatan metodik yang tepat, diharapkan dapat dikembangkan seluruh aspekanak didik. Melalui aktivitas fisik yang demikian, diharapkan siswa tidak hanya memiliki kemampuan fisik dan motorik yang baik, melainkan juga kemampuan kognitif dan afektif seperti yang diharapkan. “Interrelasi” dan interaksi dari penggunaan aktivitas fisik dalam pendidikan dengan bagian psikomotor, kognitif dan afektif. Pendidikan jasmani memiliki perandan fungsi yang konkrit dalam mengaktualisasikan nilai – nilai sosial dalam diri kepribadian anak didik. Kepribadian yang ulet, pantang menyerah, pekerja keras dan menempatkan individu lain sebagai lawan dan kawan merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan dalam pergaulan sehari - hari. Aktivitas fisik dalam pendidikan jasmani secara langsung bersentuhan dengan nilai - nilai tersebut. Beberapa ahlimenegaskan bahwa nilai - nilai tersebut secara langsung dapat teraktualisasikan melalui  pendidikan jasmani. Tidak hanya terhadap afektif, pendidikan jasmani secara langsung juga mempengaruhi kemampuan kognitif siswa. Secara fisiologis, pendidikan jasmani memberikan pengaruh langsung terhadap kemampuan pengiriman Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 3 – 7 zat - zat yang dibutuhkan otak untuk melakukan kerjanya. Pada saat anak berpikir, otak membutuhkan zat - zat untuk melakukan aktivitas berpikir.

Dengan kemampuan fisik yang prima, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat mendorong terbuka simpul - simpul saraf untuk menghasilkan kemampuan berpikir lebih baik.
  1. Anak didik sebagai fokus orientasi proses pembelajaranAnak didik sebagai fokusorientasi dari proses pembelajaran memiliki arti bahwa seluruh rangkaianpembelajaran yang dimulai dari pemilihan materi, metode, alat bantu, dan instrumen evaluasi mempertimbangkan dengan seksama kemampuan dan kebutuhan pertumbuhan serta perkem - bangan siswa. Dengan demikian, fokus orientasi pada anak didik memiliki implikasi sebagai berikut:

Pertama, pemilihan materi belajar secara langsung memperhatikan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Pertumbuhan dan perkembangan anak didik akan berlangsung secara bertahap. Tiap - tiap tahap memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut harus menjadi pertimbangan utama dalam menyusun program pembelajaran. Sehubungan dengan hal tersebut, tiap tingkat pendidikan sebaiknya memiliki perbedaan materi, baik jenis maupun hirarkinya. Materi dalam pendidikan jasmani adalah aktivitas gerak yang disesuaikan dengan tahap perkem - bangan gerak anak. 
Kedua, pemilihan dan metode pembelajaran yang digunakan hendaknya juga memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangananak didik. Dalam tahapan pertumbuhan dan perkembangan siswa membutuhkan perlakuan metodik - didaktik yang berbeda - beda. Tidak seperti yang cenderung berkembang saatini. Pada tingkat pendidikan yang berbeda tidak ditemukan perbedan metodik -didaktik. Sebaiknya guru mempertimbangkan bahwa makin tua usia siswa membutuhkan sentuhan metodik - didaktik yang dapat memberikan sedikit kebebasan dalam proses pembelajaran. Sehubungan dengan hal tersebut, makin ke arah tingkat pendidikan tinggi makin bergeser dan makin besar kewenangan anak didik untuk memilih dan menetapkan seperangkat komponen proses belajar yang tersedia. Metode pembelajaran yang lebih banyak berorientasi pada otoritas, guru hendaknya menyajikan pada tingkat pendidikan yang paling rendah. Secara berangsur - angsur sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, kewenangan dalam proses pembelajaran dialihkan pada anak didik. Dengandemikian, siswa tidak hanya aktif pada saat pembelajaran saja, melainkan juga terlibat secara aktif pada tahap penyusunan rencana belajar dan evaluasi. Dalam kondisi ini, guru dapat berperan dan berfungsi sebagai fasilitator dan manajer dari proses pembelajaran yang secara aktif membantu siswanya untuk menemukan metodik –didaktik yang tepat.
Ketiga, Guru hendaknya memiliki pertimbangan yang tepat dalam menyusun dan melakukan evaluasi. Walaupun pendidikan jasmani berorientasi pada proses bagaimana keterampilan dan kebugaran jasmani dapat menjadi milik siswa, secara berangsur dan disesuaikan dengan tingkat perkembangannya diperkenalkan pula evaluasi yang mengarah pada produk. Evaluasi pada proses lebih menitik beratkan pada bagaimana proses keterampilan tersebut dapat dimiliki oleh siswa. Untuk menyusun instrumen tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Dituntut seperangkat kemapuan, seperti; a)analisis keterampilan, b) merancang dan membangun instrumen, c) mengelola instrumen, dan d) mengorganisasikan hasil pengukuran. Alokasi waktu belajar disesuaikan dengan anak didik. Berapa waktu yang dibutuhkan oleh anak didik untuk menguasai suatu keterampilan? Tentu saja akan berbeda beda antara individu yang satu dengan lainnya. Alokasi waktu tiap materi pembelajaran, hendaknya ditujukan pada be-berapa pertimbangan bahwa tiap tahap pertumbuhan dan perkembangan anak didik akan mengalami laju yang berbeda - beda. Perbedaan tersebut meliputi fungsi, karakteristikper tumbuhan dan perkembangan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Pertimbangan terhadap pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisiologis siswa hendaknya mendapatkan perhatian yang proporsional. Pada usia awal sekolah, organ tubuh siswa sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Dalam kondisi tersebut, organ - organ tubuh mereka belum dapat menerima dan melakukan aktivitas fisik dalam waktu yang relatif lama dengan intensitas yang tinggi. Mereka membutuhkan waktu istirahat di antara aktivitas fisiknya. Waktu istirahat dibutuhkan dalam rangka mengembalikan kemampuan fisik untuk aktivitas fisik selanjutnya. Dengan demikian,perhatian terhadap waktu istirahat harus diberikan dengan porsi yang sama dengan waktu pelak - sanaan/latihan.
Di samping hal tersebut, dengan adanya perbedaan kemampuan individual, tiap siswa membutuhkan alokasi yang berbeda - beda untuk menguasai suatu keterampilan. Sehubungan dengan hat tersebut, guru dituntut untuk mengembangkan program yang bersifat indvidual atau paling tidak program yang didasarkan atas kelompok - kelompok kemampuan anak didik.Hal terpenting berikutnya adalah mengetahui beberapa pengertian pokok perihal aktivitas jasmani, latihan dan kebugaran jasmani. Aktivitas jasmani merupakan gerak tubuh yang dilakukan secara teratur dan aktivitasnya bertahap dari yang paling ringan, moderat, dan berat. Terjadinya gerakan ini karena adanya penyaluran energi ke otot - otot dalam tubuh. Latihan merupakan sub bagian dari aktivitas jasmani itu sendiri. Latihan merupakan bentukaktivitas jasmani yang terencana, terstruktur, serta merupakan gerak tubuh yang berulang - ulang, dan bertujuan untuk memperbaiki dan memelihara salah satu atau lebih komponen kebugaran jasmani yang terkait dengan kesehatan. Kebugaran jasmani adalah ukuran tentang kemampuan jasmani individu dalam melakukan aktivitas jasmani yang memerlukan aerobik fitnes, kekuatan dan daya tahan otot, fleksibilitas, komposisi tubuh, kelincahan, keseimbangan, koordinasi, kecepatan, waktu reaksi dan bebas dari cedera. Berdasarkan literatur dalam olahraga kebugaran atupun aerobik, disarankan untuk menjaga kebugaran jasmani paling tidak harus selakukan aktivitas jasmani yang terkontrol (olahraga) sebanyak tiga (3) kali dalam seminggu. Melihat kurikulum di Indonesia yang hanya menyediakan satu (1) kali perminggu, dapat kita renungkan dan kita hubungkan dengan teori - teori kebugaran yang ada (silahkan dicari buku yang berkaitan dengan kebugaran dan program latihan olahraga), keadaan tingkat kebugaran siswa Indonesia akan berada pada level yang bagaimana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar